Aliran Ideologi Pendidikan

Ideologi Pendidikan
·         Radikal

Radikalisme secara umum dipahami sebagai suatu gerakan sosial yang mengarah pada hal-hal yang negatif. Radikal adalah proses secara sungguh-sungguh untuk melatih keberhasilan atau cita-cita yang dilakukan dengan cara-cara yang positif. Salah satu atau beberapa elemen dalam pendidikan sering melakukan radikalisme yang menyebabkan teror atau rasa takut para elemen pendidikan untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik dan tenaga kependidikan.

Secara umum fenomena radikalisme dalam pendidikan lahir dari guru kepada siswa, dari siswa kepada guru dan juga dari orang tua/masyarakat kepada elemen elemen yang ada di dalam pendidikan. Guru kurang maksimal melaksanakan tugasnya sebagai pendidik hanya agara gara takut diancam pihak pihak lain uangg dianggap merasa dirugikan. Seorang kepala sekolah kurang optimal menjalankan tugasnya sebagai pimpinan lembaga pendidikan karena takut ditekan atau diancam oleh atasannya. Tokoh radikalisme adalah Freidrich Engels dan Karl Marx.

·         Conservative 
Istilah konservatif berasal dari kata dalam bahasa Latin conservare, yang dapat diartikan “melestarikan, menjaga, memelihara, mengamalkan”. Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, maka kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula.

Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional yang harus dipertahankan. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante. Menurut Giroux dan Aronowitz (1985), konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa bahwa masyarakat, dalam hal ini peserta didik, pada dasarnya tidak merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan social. Dengan pandangan seperti itu, para pendidik yang menggunakan paradigma konservatif menganggap peserta didik tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk melakukan perubahan atas kondisi mereka.  Tokoh aliran konservatif, diantaranya adalah Jean Piaget, Len Vygotsky, Jerome Brunner, Von Glaserfeld, dan Tran Vui.


·         Liberal 

Liberal memiliki arti bersifat bebas; berpandangan bebas (luas dan terbuka) (KBBI 2001).  Golongan liberal berangkat dari keyakinan bahwa memang ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat, sehingga tugas pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan dengan cara memecahkan masalah-masalah yang ada dalam dunia pendidikan (Fakih 2008: xiii-xiv).

Paradigma ideologi pendidikan liberal dapat diartikan sebagai model dalam teori ilmu pengetahuan yaitu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat yang sesuai dengan paham, teori dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik yang bebas berpandangan luas dan terbuka. Paradigma Liberal, berangkat dari keyakinan bahwa tidak ada masalah dalam sistem yang berlaku ditengah masyarakat, masalahnya terletak pada mentalitas, kreativitas, motivasi, ketrampilan teknis, serta kecerdasan anak didik. Tokoh-tokoh ideologi Liberalisme, diantaranya adalah John Locke (1632 – 1704) dan Adam Simth (1723-1790).

·         Humanist

Humanisme dalam arti filsafat di artikan sebagai paham filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sedemikian rupa sehingga manusia menempati posisi yang sangat sentral dan penting dalam hidup sehari-hari. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok didalam komunitas sekolah. Beberapa tokoh aliran belajar humanistik antara lain adalah Arthur Combs, Abraham H. Maslow, dan Carl R. Rogers.

·         Progressive 

Progresivisme adalah aliran yang berpandangan bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang, yang dianut pada tahun 1918 oleh Amerika Serikat. Aliran ini meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik dalam mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan. Pendidikan harus berpusat pada peserta didik bukan berfokus pada guru sehingga kreatif dn natural. Progresivisme mempunyai konsep dasar yaitu pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Aliran ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter karena mematikan daya kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik. Progresivisme menghendaki adanya mata pelajaran yang terintegrasi sehingga dapat berkembang secara fisik mauopun psikis baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Perkembangan pengalaman antara individu dipandang penting pada aliran ini. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Akal dan kecerdasan peserta didik harus dikembangkan dengan baik sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan tetapi juga sebagai pemindahan nilai-nilaI. Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang program pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Tokoh-tokoh aliran progresivisme, diantaranya adalah William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), dan Hans Vaihinger (1852-1933).

·         Socialist 

Sosialisme secara etimologi berasal dari bahasa Perancis yaitu sosial yang berarti kemasyarakatan. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar tahun 1830. Sosialisme adalah paham yang menghendaki segala sesuatu harus diatur bersama dan hasilnya dinikmati bersama-sama. Dengan kata lain sosialisme adalah paham yang menghendaki kemakmuran bersama. Menurut W. Surya Indra (Winarno,2012:22) sosialisme adalah ajaran kemasyarakatan (pandangan hidup) tertentu yang berhasrat menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil produksi secara merata.

Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujudkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba tetapi semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat.

Sosialisme ini muncul kira-kira pada awal abad 19, tetapi gerakan ini belum berarti dalam lapangan politik. Baru sejak pertengahan abad 19 yaitu sejak terbit bukunya Marx, Manifes Komunis (1848), sosialisme itu seakan-akan sebagai faktor yang sangat menentukan jalannya sejarah umat manusia.Paham sosialis berkeyakinan bahwa perubahan dapat dan seyogyanya dilakukan dengan cara-cara damai dan demokratis.

Paham sosialis juga lebih luwes dalam hal perjuangan perbaikan nasib buruh secara bertahap. Kesengsaraan kaum buruh akibat penindasan kaum kapitalis menimbulkan pemikiran para cendekiawan untuk mengusahakan perbaikan nasib. Selain itu sosialisme merupakan suatu paham yang menjadikan kebersamaan sebagai tujuan hidup manusia dan mengutamakan segala aspek kehidupan bersama manusia. Kepentingan bersama dan kepentingan individu harus dikesampingkan. Negara harus selalu campur tangan dalam segala kehidupan, demi tercapainya tujuan negara. Tokoh-tokoh ideologi sosialisme adalah Karl Marx (1818-1883), Frederich Engels (1820-1895), C.H. Saint Simon (1760-1825), F.M Charles Fourier (1772-1837), EtinneCabet (1788-1856), Wilhelm Weiling (1808-1871), dan Louis Bland (1811-1882).

·         Democracy

Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini disebabkan karena demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara. Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara.

Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Tokoh demokrasi, diantaranya adalah Plato (429-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Santo Agustinus (354-450), Thomas Aquina (1229-1274), Montesquieu, dan J.J. Rousseau. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA