FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
FILSAFAT
PENDIDIKAN MATEMATIKA
Herlingga
Putuwita Nanmumpuni1), Marsigit2)
Prodi
Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana,
Universitas Negeri Yogyakarta
email: lingga.punan@gmail.com
Pendahuluan
Matematika yang identik dengan kemampuan
menghitung sangat bermanfaat untuk digunakan dalam memecahkan masalah pada
kehidupan sehari-hari. Matematika bahkan mendapatkan julukan sebagai ratu bagi
cabang ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini merupakan bukti bahwa matematika amat
bermakna penting untuk dapat menunjang tercapainya keberhasilan dari berbagai
ilmu lainnya. Pemahaman ini pula yang membawa pemaknaan yang dinamis terhadap
matematika itu sendiri. Terdapat banyak pilihan pendekatan untuk dapat memaknai
matematika, salah satunya adalah filsafat.
Memikirkan matematika secara
filsafat berarti memikirkan matematika secara reflektif (Marsigit, 2015 : 81).
Pendekatan filsafat cakupannya tidak dibatasi sampai pada pemikiran yang sifatnya
common sense. Dalam pendekatan
filsafat, konsep yang sudah didapatkan tidak begitu saja diterima, tetapi
direfleksikan terlebih dahulu. Pemikiran filsafat akan memberikan jarak antar
apa yang kita pikirkan dengan objek yang kita maksud. Proses berpikir yang
dilakukan akan memancing rasa ingin tahu manusia. Rasa ingin tahu ini akan
terus berkembang, walaupun pada akhirnya pemikiran manusia sendiri memiliki
batasan tertentu. Berpikir filsafat juga akan menghadirkan masalah, misalnya
sulit bagi kita untuk menyatakan apa yang kita pikirkan benar-benar ada. Kajian
filsafat itu sendiri amat luas dan memiliki banyak cabang ilmu.
Sistem
filsafat tersusun pula atas unsur-unsur
epistemologi, ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan,
yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang
ingin dipikirkan. Ontologi adalah teori tentang “ada”, yaitu tentang apa
yang dipikirkan, yang menjadi objek pemikiran. Sedangkan aksiologi adalah teori
tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun fungsi dari objek
yang dipikirkan itu. Oleh karena
itu, ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan, mulai dari
ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi. Dengan gambaran senderhana dapat
dikatakan, ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi), lalu dicari cara-cara
memikirkannnya (epistemologi), kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan
suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).
Baik epistemologi, ontologi maupun aksiologi memiliki peranannya
masing-masing dalam pemahaman matematika. Terkait pemaparan yang dijelaskan
sebelumnya, maka pembasan ini akan lebih menekankan pada epistemologi, ontologi dan aksiologi matematika. Hal ini dimaksudkan
untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai komponen, proses pengkajiannya,
dan nilai atau kegunaan dari matematika.
Pembahasan
1)
Filsafat Ilmu
Bakhtiar
(2006 :17) menyimpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam
tentang dasar-dasar ilmu. Filsafat ilmu memiliki tujuan:
a)
Mendalami unsur-unsur pokok ilmu,
sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat, dan tujuan
ilmu.
b)
Memahami sejarah pertumbuhan,
perkembangan, dan kemajuan ilmu di berbagai budang, sehingga kita mendapat
gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
c)
Menjadi pedoman bagi para dosen dan
mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan
persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
d) Mendorong
pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan
mengembangkannya.
e)
Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber
dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.
Sedangkan
dasar-dasar ilmu itu sendiri menurut Bakhtiar dibagi menjadi tiga, yaitu: Ontologi,
Epistemology, dan Aksiologi.
2)
Pendidikan Matematika
Matematika
adalah realitas yang objektif, dalam arti objek matematika memiliki keterangan
yang pasti, di mana kebanyakan dari kita tidak dapat mengetahuinya. Karakteristik-karakteristik dari matematika
yaitu: memiliki objek yang abstrak, bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir
deduktif, memiliki simbol yang kosong arti, memperhatikan semesta pembicaraan,
dan konsisten dalam sistemnya. Matematika (sebagai pengetahuan) dan pendidikan
matematika (sebagai materi dalam pendidikan) tidak dapat dipisahkan. Namun
keduanya dapat dibedakan melalui fokus yang menjadi bahasannya. Menurut Pepin
(1997: 5), pendidikan matematika tidak hanya membahas tentang dunia matematika
(sebagai materi pelajaran) saja, tapi juga tentang pemikiran siswa dan gurunya,
yang terdapat pada lingkungan sistem pendidikan dan institusi pendidikan.
Istilah
pendidikan (Tafsir, 2013) dalam bahasa inggris
education, berakar dari bahasa latin,
educare, yang dapat diartikan
“pembimbingan berkelanjutan (to lead
forth)”. Jika diperluas, arti etimologis itu mencerminkan keberadaan
pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi sepanjang eksistensi
kehidupan manusia. Pendidikan matematika (Dörfler, 2003) adalah sebuah disiplin
ilmu yang ditinjau secara luas sebagai study tentang bagaimana orang-orang
belajar dan melakukan matematika, dan bagaimana belajar dan mengerjakan dapat
berpengaruh dan berkembang di antara yang lain dengan pengajaran, dengan
menggunakan media, dengan representasi yang berbeda, atau organisasi sosial
dalam aktivitas matematika.
3)
Ontologi
a)
Pengertian Ontologi
Istilah ontologi
berasal dari bahasa yunani yaitu “On/Ontos” yang artinya “ada”, dan “Logos” yang artinya ilmu. Jadi, ontologi
adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah, ontologi adalah ilmu
yang membahas tentang hakikat yang ada. Louis O.Kattsoff dalam Elementary of Filosophy mengungkapkan
bahwa ontologi itu mencari ultimate
reality yang dibuktikan pertama kali oleh Thales.
Sedangkan menurut
Suriasumantri (2007), ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui,
seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai
teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan (a)
apakah obyek ilmu yang akan ditelaah? (b) bagaimana wujud yang hakiki dari
obyek tersebut, dan (c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya
tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan
pengetahuan. Secara formal ontologi mengkaji hakikat seluruh realitas. Hakikat
kenyataan atau realitas bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang,
yaitu (1) kuantitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau
jamak?; dan (2) kualitatif, dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas)
tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya batu berwarna hitam,
bunga berbau harum atau gula terasa manis.
b)
Ontologi Pendidikan Matematika
Dalam Suyitno (2009: 20) Permasalahan
ontologis, berkaitan dengan masalah obyek dari kajian ilmu (termasuk ilmu
pendidikan). Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut
anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan obyek yang
ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana
obyek ilmu yang di luar jangkauan manusia tidak termasuk dalam bidang telaahan
ilmu.
Ontologi pendidikan matematika
berusaha mengkaji pendidikan matematika melalui kenyataan yang ada pada
pendidikan matematika itu sendiri. Adapun contoh dari ontologi pendidikan
matematika itu sendiri adalah harus adanya pemahaman mengenai perkembangan
peserta didik dalam setiap tahap pendidikan. Pendidikan matematika di sekolah
seyogyanya diarahkan kepada peningkatan kemampuan bernalar (berfikir) dan
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan kemampuan siswa.
Selain pendekatan ontologis, kajian
dalam filsafat ini juga menyebutkan adanya kesadaran ontologis yang secara
lengkap disampaikan Marsigit (2015: 96) sebagai berikut: “Kesadaran ontologis
berusaha merefleksikan dan mengintrepretasikan kenyataan matematika kemudian
secara implisit menghadirkannya sebagai suatu pengetahuan yang berguna dalam
pergaulan dengan orang lain serta secara eksplisit dapat dirumuskan dalam
bentuk-bentuk formal untuk mendapatkan tema-tema yang bersesuaian.” Dari
pemaparan tersebut, dapat diperoleh kesimpulan bahwa ontologi pendidikan
matematika adalah objek yang ditelaah dalam pendidikan matematika yang dipahami
keseluruhan isinya secara konkret dan mengada dari pengalaman hidup manusia.
Contoh ontologi pendidikan matematika adalah konsep diri guru, konsep diri
siswa, hubngan komunikasi guru ke siswa atau siswa ke guru baik secara
material, formal, normatif, maupun transenden.
4)
Epistemologi
a)
Pengertian Epistemologi
Epistemologi
berasal dari bahasa Yunani, secara
kebahasaan (etimologi), istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani yakni episteme yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti ilmu atau teori (theory). Jadi, jika dilihat dari silsilah kebahasaannya
epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge). Istilah epistemologi
diperkenalkan oleh filsuf Skotlandia yang bernama James Frederic Ferrier.
Epistemologi adalah cabang filafat yang memberikan fokus perhatian pada sifat
dan ruang lingkup ilmu pengetahuan yang terdiri dari pertanyaan: Bagaimanakah pengetahuan diperoleh? Bagaimana kita mengetahui apa yang
kita ketahui?
Epistemologi umumnya berkaitan dengan ‘teori
pengetahuan’, terutama studi krisis tentang validitas, metode, dan ruang
lingkupnya. Thompson
(1992) menegaskan bahwa 'dari perspektif epistemologis tradisional,
karakteristik pengetahuan adalah
kesepakatan umum tentang prosedur untuk mengevaluasi dan menilai
keabsahannya; pengetahuan harus memenuhi kriteria yang meliputi norma-norma
bukti. Kajian epistemologi
merupakan inti dari kajian dalam filsafat ilmu. Sebagaimana pengertian filsafat
ilmu yang dikemukakan oleh Beering dalam Susanto (2011: 50) yaitu penyelidikan
tentang ciri-ciri mengenai pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperoleh
pengetahuan tersebut. Lebih lanjut lagi, Beering mengatakan bahwa filsafat ilmu
erat kaitannya dengan filsafat pengetahuan atau epistemologi yang secara umum
menyelidiki syarat-syarat serta bentuk pengalaman manusia juga mengenai logika
dan metodologi. Selain itu, Suriasumantri (1995: 33) menjelaskan bahwa filsafat
ilmu merupakan suatu pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelaskan
rahasia alam agar gejala alamiah tak lagi merupakan misteri.
b)
Epistemologi Pendidikan Matematika
Pepin (1997:
4) mengatakan bahwa epistemologi
pendidikan matematika tidak hanya berhubungan dengan kemungkinan dunia
matematika itu sendiri (sebagai materi pelajaran), tetapi juga dengan pikiran sebenarnya
dari siswa dan guru, yang tertanam dalam dunia sosial yang kompleks dari sistem
pendidikan nasional dan lembaga pendidikan.
Epistemologi pendidikan matematika dapat dimaknai sebagai cara untuk memahami
hakekat pendidikan matematika dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Dalam hal
ini epistemologi berperan untuk memberikan jalan bagi orang yang ingin
mempelajari pendidikan matematika. Jika dikaitkan dengan pendidikan matematika
di Indonesia saat ini, masalah dasarnya adalah siswa tidak dibiasakan untuk
menginterpretasikan sebuah persoalan matematika dalam kehidupan nyata. Padahal
matematika itu adalah interpretasi manusia terhadap fenomena alam. Akibatnya,
siswa mampu dengan lancer mengerjakan permasalahan matematika yang berupa soal,
namun kurang mampu menginterpretasikannya dalam kehidupan nyata.
Gambaran seseorang
tentang ‘apakah
matematika itu’
mempengaruhi gambaran seseorang tentang ‘bagaimana matematika itu seharusnya
disajikan’.
Cara seseorang menyajikannya adalah sebuah indikasi dari apa yang seseorang
percayai untuk menjadi sesuatu
yang
paling penting di dalam
penyajiannya. Sebagai
contoh dari epistemologi pendidikan matematika adalah proses pendidikan sebagai
suatu olah ilmu pengetahuan mengenai matematika sangat dipengaruhi oleh kondisi
dan kemampuan guru sebagai fasilitator. Jika guru mampu memfasilitasi siswa
dengan baik dalam kegiatan pembelajaran, maka siswa akan menjadi individu yang
aktif dan mampu menerapkan matematika dalam berbagai segi kehidupan.
5)
Aksiologi
a)
Pengertian Aksiologi
Aksiologi membahas mengenai
kegunaan dari suatu ilmu pengetahuan. Keberadaanya mengkaji mengenai hakikat manfaat sebenarnya
dari ilmu pengetahuan. Hal ini berkaitan dengan nilai yang terkandung pada
setiap ilmu termasuk matematika. Suatu ilmu pengetahuan tidak akan pernah
sia-sia saat kegunaan dari pengetahuan itu diketahui. Dengan demikian, sudut
pandang aksiologi menjadi penting untuk diketahui seseorang yang mempelajari
ilmu pengetahuan.
Chesky (2013:20) menyatakan
bahwa aksiologi merupakan salah satu cabang filsafat yang fokus pada hakikat
nilai dan tipe nilai dalam estetika moral, agama, dan metafisik. Pendapat ini
senada dengan yang disampaikan oleh Kattasoff (1996:27) bahwa aksiologi adalah
cabang filsafat yang mengkaji mengenai hakikat nilai yang meliputi nilai
keindahan, kebenaran, kebaikan dan religius. Dalam memahami aksiologi,
pertanyaan relevan yang sering diajukkan adalah mengenai apakah sesuatu itu
baik (good) atau bagus?
Pembahsan aksiologi juga
tidak bisa dipisahkan dari pemahaman mengenai value atau nilai. Nilai menyatakan kualitas yang terkandung pada
segala hal di dunia. Nilai tidak dapat berdiri sendiri melainkan menjadi bagian
dari seluruh kondisi lingkungan yang ada. Pandangan mengenai nilai akan merujuk
pada kemampuan manusia dalam memikirkan kualitas objek di sekitarnya. Hartman
(1967:39) menyampaikan bahwa nilai (value)
didefinisikan sebagai makna dan sebagai kualitas yang dimiliki. Hal ini
berhubungan dengan sampai sejauh mana suatu konsep sampai pada arti atau makna.
Sesuatu yang memiliki kualitas lebih baik akan lebih bernilai dan begitupun
sebaliknya.
b)
Aksiologi Pendidikan Matematika
Pembahasan mengenai aksiologi
matematika seringkali berkaitan dengan aksiologi pendidikan matematika. Dalam
hal ini, aksiologi pendidikan matematika lebih menekankan pada tujuan
pengembangan kualitas manusia sebagai pengguna matematika. Di sisi lain, aksiologi
matematika lebih menekankan pada kegunaan ilmu matematika itu sendiri. Dengan
demikian, walaupun keduanya saling berkaitan namun tetap memiliki ranah yang
berbeda.
Pandangan mengenai aksiologi
matematika berhubungan dengan aksiologi science
yang kemudian disebut sebagai formal
axiology. Konsep dari formal axiology
secara singkatnya menyatakan apa yang dilakukan matematika pada kondisi
tertentu dan pada ilmu pengetahuan. Dalam salah satu tulisannya Hartman
(1967:39) menyatakan bahwa formal
axiology didasarkan pada logika alami dari sebuah makna yaitu intension dan
pada struktur intension sebagai himpunan predikat. Karena matematika bersifat
objektif dan a priori maka formal
axiology juga bersifat objektif dan a priori.
Pembahasan pokok aksiologi
matematika adalah nilai dan tipe nilai matematika. Axiometrics International,
Inc. (2002:6) menyatakan bahwa menurut Hartman, matematika sebagai salah satu
ilmu pengetahuan setidaknya memiliki empat tipe nilai yaitu : (1) Nilai karena
keunikannya, (2) Nilai karena fungsinya, (3) Nilai karena maknanya, dan (4)
Nilai karena tujuannya.
Selain itu, Hartman
(1967:42-43) mengungkapkan bahwa terdapat tiga dimensi dari value (nilai) yaitu nilai sistemik,
nilai ekstrinsik, dan nilai intrinsik. Ketiga dimensi ini berkembang
berdasarkan relasi dalam analisis kombinatorial antara himpunan finit dan
infinit. Terdapat tiga jenis himpunan yang mungkin yaitu : himpunan finit,
himpunan infinit denumerabel, dan himpunan infinit non denumerabel.
Kesimpulan
Ontologi pendidikan matematika
berusaha mengkaji pendidikan matematika melalui kenyataan yang ada pada
pendidikan matematika itu sendiri. Adapun contoh dari ontologi pendidikan
matematika itu sendiri adalah harus adanya pemahaman mengenai perkembangan
peserta didik dalam setiap tahap pendidikan. Pendidikan matematika di sekolah
seyogyanya diarahkan kepada peningkatan kemampuan bernalar (berfikir) dan
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan kemampuan siswa.
Dalam pembelajaran matematika
khususnya, pembelajaran sebaiknya
dimulai dari pemahaman konsep itu sendiri. Seorang guru juga sebaiknya tidak
langsung ke definisi bahkan rumus. Siswa lebih baik diajak untuk dilibatkan
dalam penemuan rumus bahkan definisi yang akan dibahas atau digunakan.
Epistemologi pendidikan matematika dapat dimaknai
sebagai cara untuk memahami hakekat pendidikan matematika dari sudut pandang
ilmu pengetahuan. Dalam hal ini epistemologi berperan untuk memberikan jalan
bagi orang yang ingin mempelajari pendidikan matematika. kajian
pondasi epistemologi matematiaka terdapat pandangan tentang epistemologi
standart yang meliputi kajian tentang kebenaran, kepastian, universalisme,
obyektivitas, rasionalitas, dan lain sebagainya. Menurut pondaasionalisme
empiris, dasar dari pengetahuan adalah lebih besar dari kebenaran yang
diperoleh dari hukum sebab-akibat diturunkan dari argumen-argumennya.
Aksiologi pendidikan
matematika lebih menekankan pada tujuan pengembangan kualitas manusia sebagai
pengguna matematika. Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa pada proses
belajar mengajar di sekolah tujuannya tidak hanya pada kuantitas pengetahuan
yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan
karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada
individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.
Daftar Pustaka
Axiometrics
International, Inc. (2002). Validity
Studies Of The Hartman Profile Model. Diunduh dari http://www.assessments24x7.com
/validity/HVP%20Validity
Research.pdf pada tanggal 25 Desember 2016.
Bakhtiar, A. .2006. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Dörfler, W. 2003. Mathematics and Mathematics Education: Content and people, relation and
difference. Educational Studies in Mathematics, 54, 147-170. Netherlands:
Kluwer Academic.
Davis,
P.J. and Hersh, R... 1980. The
Mathematical Experience. Birkhauser: Boston.
Hartman,
R. S.. 1967. Formal Axiology and The
Measurentment of Value. The Joural
of Value Inquiry. Hal 38-46.
Kattsoff,
L. O.
1996. Element of Philosophy. Terjemahan Soemargono. Pengantar Filsafat.Yogyakarta: Tiara Wacana.
Marsigit,
Ilham R., & Nila M. M.. 2015. Filsafat
Matematika dan Praksis Pendidikan Matematika. Yogyakarta : UNY Press.
Pepin, B. E.
1997. Epistemologies, beliefs and conceptions of mathematics teaching and
learning: The theory, and what is manifested in mathematics teachers’ work in
England, France and Germany. Milton Keynes, United Kingdom: Open
University.
Suriasumantri,
J. S.. 1995. Filsafat Ilmu. Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan.
Suriasumantri, J. S.. 2002. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Susanto, A.. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Bumi Aksara.
Suyitno Y.,Dr.. 2009. Landasan Filosofis Pendidikan.
Universitas Pendidikan Indonesia.
Tafsir, A. 2013. Filsafat
Umum: Akal dan hati sejak Thales sampai Capra (T. Surjaman Ed. Keduapuluh ed.).
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Thompson,
A.G..
1992. Teachers’ beliefs and conceptions: a synthesis of the research. In D.A.Grouws
(ed) Handbook of Research on Mathematics
Teaching and Learning. New York: Macmillan.
Komentar
Posting Komentar