Perihal Yang Ada dan Yang Mungkin Ada

Video “Rembulan Kekalang UNY” memuat tarian, politik, seni rupa, suara dan lain-lainnya. Pertunjukkan ketoprak tersebut menampilkan penokohan yang berada pada sisi-sisi kebaikan maupun keburukan. Dalam filsafat, diriku ya diriku, dan dirimu ya dirimu. Belajar filsafat harus banyak membaca, karena objek filsafat itu semuanya. Semua bisa menjadi referensi untuk filsafat, setidak penting apapun bisa menjadi awal ilmu filsafat, dan sesuatu yang  dianggap sepele pun bisa menjadi filsafat, karena sebenar-benar filsafat adalah pikiran.
Di bawah filsafat itu ada psikologi wacana. Psikologi sendiri itu bisa bermacam-macam, bisa psikologi terapan, atau yang lainnya. Pada psikologi wacana kita bisa menggali potensi-potensi apa yang baik untuk diri kita dan baik untuk diri orang lain. Bisa berawal dari yang paling sederhana saja, misalnya nama. Kita bisa memaknai nama kita sendiri. Orang yang berpendidikan, orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat itu membuat nama pasti punya maksud, punya aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Tidak hanya sekedar mencari sesuatu yang fenomenal.
Ada pula nama-nama yang sensasional, tapi itu menentang arus, menentang kebenaran, dan menentang nurani. Itu semua menyangkut tentang etik dan estetika. Nama itu semuanya, tanpa terkecuali. Ada yang memberi nama Setan, Tuhan. Tapi Pak Marsigit mengatakan bahwa beliau belum pernah mendengar ada yang memberi nama anaknya dengan nama Allah, meskipun segila-gilanya orang tersebut. Pak Marsigit berpendapat bahwa mungkin orang yang memberi nama anaknya dengan nama Tuhan berpiki bahwa saja Tuhan itu bisa selain Allah. Kalau mau memberi nama untuk membuat asal bingung ya bisa saja, contohnya namanya “Siapa”, “Apa”. Kalau ditanya kamu namanya siapa? Terus menjawab “Apa”. Kamu ditanya kok balik bertanya? Menurut Pak Marsigit ini bertujuan agar sang anak bisa menjadi orang yang bisa berargument.
Pak Marsigit kemudian menjelaskan arti nama beliau, baik secara klasik maupun kontemporer. Nama Marsigit juga memiliki arti berbeda jika dipandang dari sisi spiritual. Sudut pandang spiritual ini merupakan yang paling berat dan memiliki nilai perjuangan. Marsigit jika ditarik ke dalam Bahasa Arab adalah Ma, Si, Jid atau Masjid. Keseluruhan pemaknaan arti nama tersebut menjadi motivasi bagi Pak Marsigit untuk terus selalu mencari amal kebaikan. Nama itu adalah doa, jadi haruslah mengandung arti yang baik atau positif. 
Pak Marsigit kemudian menyampaikan bahwa apa yang telah beliau sampaikan baru sebatas pengantar pada materi perkuliahan hari ini. Selanjutnya akan dilakukan tes jawab singkat yang menjadi inti dari perkuliahan, mahasiswa diminta menyiapkan selembar kertas yang telah diberi identitas dan digunakan untuk menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pak Marsigit. Menurut Pak Marsigit kebanyakan jawaban dari mahasiswa tidaklah lengkap, kebanyakan jawaban tersebut mendzholimi jawaban lainnya yang belum sempat untuk diutarakan. Padahal jawaban yang lain dn belum sempat untuk diutarakan itu juga memiliki hak untuk diutarakan. Lantas jika begitu maka mengapa hanya menjawab satu jawaban saja?
Jawaban para mahasiswa itu parsial, parsial itu ialah sumber persoalan.  Seluruh persoalan yang ada di dunia dikarenakan manusia itu parsial, dan ini sangat bahaya. Jawaban dari 20 soal pertanyaan singkat tersebut haruslah diawali kata “BELUM TENTU KARENA”, setelahnya kemudian baru bisa diikuti oleh jawaban yang ingin dituliskan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Sebagian manusia itu sering merasa tergoda untuk menganggap dirinya mengerti dan itu berbahaya. Filsafat itu berbeda dengan matematika, jika dalam matematika yang tadinya tidak paham berubah menjadi paham, tetapi sebaliknya, dalam filsafat yang tadinya paham justru menjadi tidak paham. Pak Marsigit menyampaikan bahwa sebenarnya tugas beliau adalah mengguncang-guncangkan pikiran para mahasiswa.
Ada budaya yang orang tidak paham tapi melakukannya padahal tidak cermat. Contohnya adalah orang jawa di kampung-kampung memakai baju adat atau baju tradisional saat ada resepsi. Ibu-ibu yang mengipasi dirinya dengan kipas. Jika diperhatikan betul secara psikologis dan realitasnya, artinya adalah “ambillah udara disekitar ini buat kamu” kepada orang lain. Sebenarnya hal tersebut adalah bad behavior karena tidak semua orang menyukainya. Jika merasa gerah, maka gerahnya sama-sama dengan yang lainnya.
Dalam spiritual, yang ada dan yang mungkin ada di dalam hati. Permasalahan dalam filsafat hanya ada 2 macam, yaitu : bagaimana kamu bisa menjelaskan yang ada dalam pikiranmu, dan bagaimana kamu mengerti apa yang di luar pikiranmu. Sejak zaman Socrates dari 200 tahun yang lalu, terbukti tidak ada orang yang mampu melakukannya. Yang ada adalah semua orang atau sebagian orang mengaku merasa mengerti. Belajar berfilsafat adalah memposisikan diri dan mendudukan kembali kesadaran manusia yang sudah merasa mengerti sebetul-betulnya hanya sebagian.
Engkau yang sedang menjelaskan itulah engkau sedang berfilsafat.  Mengapa mesti engkau sedang menjelaskan engkau terkoneksi pak marsigit. Silahkan ngomong sendiri, aku memfasilitasi supaya kamu bisa berfilsafat. Belajar itu jangan terlalu ego, siap untuk berekonstruksi pikiran kita yang lama, goyang goyang goyang, , untuk mencari ilmu yang bagus, untuk memperoleh konsep yang bagus. Cara menyeimbangkan dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda. Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Mengatakan yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika, Cokro Manggilingan, dan belajarSalah satu contoh dalam pembelajaran ini yaitu dengan tes jawab singkat, jadi fungsi tes jawab singkat adalah untuk mengatakan dari yang mungkin ada menjadi ada. Maka kapanpun sadar tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi ada. Manusia itu sangat terbatas dan lemah karena manusia hanya mampu melihat sepotong gambar saja karena tidak ada yang mengabadikan setiap momennya. Yang mampu mengabadikan setiap detiknya hanya kamera Tuhan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aliran Ideologi Pendidikan

FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA